About Me »
- senzdee
- Please allow me to introduce myself I'm a man of wealth and taste I've been around for a long, long year Stole many a man's soul and faith
Sympathy For The Drugs
Bussines Area »
Artikel Terbaru »
Ada saat dimana aku harus meletakan semuanya dan mulai berfikir tentang hasil akhir dari pertandinganku melawan ketergantunganku terhadap heroin yang hamper saja membunuhku, aku mulai mengkalkulasikan berapa banyak kerugian yang aku derita selama aku memadu kasih dengannya, ternyata menghasilkan angka yang sangat diluar dugaan, secara materiil kerugian itu mungkin cukup banyak dan mengakibatkan penurunan laju inflasi pada sektor dompet si Mama! Konsekwensinya adalah, resiko pemotongan uang jajan, repotnya naik angkutan umum, penarikan fasilitas untuk menunjang kegiatanku untuk mengagitasi perempuan-perempuan cantik diluar sana.
Belum lagi penarikan kepercayaan dari orang tua, teman-teman dan wanita disekitarku, sangat-sangat menjengkelkan saat ada seorang kawan memanggilku dengan sebutan “pembohong” atau mama yang lebih percaya dengan orang lain daripada anaknya sendiri terutama dalah hal yang berhubungan langsung dengan benda yang banyak diperebutkan manusia saat ini yaitu uang!!.
Cukup banyak sekali permasalahan yang berlatarbelakang benda ini, saling bunuh untuk mendapatkannya, merampas hak orang lain, mamanipulasi kenyataan, menipu, sampai pengabaian perintah dari Tuhan karena manusia lebih mengejar-ngejar uang untuk pemenuhan hasratnya daripada mengejar ibadah demi mendapatkan surga, pun demikian dengan aku! Pernah suatu saat aku berkhayal tentang dunia tanpa uang!! Apa jadinya.?! mungkin takkan ada perampokan untuk mendapapatkan uang, mungkin tak ada perang untuk memperlluas wilayah jajahan, mungkin pelacur, gigolo, waria takkan lagi punya alas an untuk menjual diri demi uang, Mungkin orang-orang akan malas bekerja karena tidak ada tujuan yang akan dicapainya sebagai penghargaan atas jerih payahnya bekerja, mungkin orang-orang tidak akan ada yang mengemis dipinggir jalan, takkan ada korban penjualan manusia, takkan ada orangberfikir untuk menjual tanpa uang ketika segala sesuatu yang dianggap orang sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dan terasingkan dari dirinya menjadi suatu objek pertukaran, objek lalu-lintas dan dapat dipisahkan dan diasingkan. Inilah waktunya ketika justru segala sesuatu yang hingga saat itu telah dikomunikasikan, tetapi tidak pernah ditukarkan, yang diberikan, tetapi tidak pernah dijual, yang diperoleh, tetapi tidak pernah dibeli yaitu kebajikan, cinta, keyakinan, pengetahuan, hati-nurani. ketika segala sesuatu, singkatnya, beralih menjadi perdagangan. Itulah masanya korupsi umum, sogok-sogokan universal, atau, dikatakan dalam pengertian-pengertian ekonomi-politik, masa ketika segala sesuatu, moral atau fisikal, setelah menjadi suatu nilai yang dapat dipasarkan, dibawa ke pasar untuk dinilai pada nilainya yang paling tepat.
Entahlah mungkin saja aku hanya terbawa dalam satu suasana dimana nasib dompet kulitku telah kosong tak berisi, mungkin aku harus segera berkemas guna terjun langsung ke arena peperangan dimana aku akan mendapatkan benda keramat itu untuk melampiaskan nafsu dan keinginanku atau setidaknya mendapatkan pengakuan ditengah masyarakat dunia yang berorientasi materi ini dimana seseorang akan dinaikan derajatnya karena tahta, kuasa dan banyak uang.
Perbincanganku dengan beberapa kawan tadi malam telah berhasil membekukan impuls kuat pemikiranku tentang masa depan, hamper setengah malam kita memperbincangkan tentang beragam kisah orang-orang sukses, pembesar negeri, sampai dinamika perserikatan dinas atau instansi pemerintahan, berbelitnya system birokrasi sampai management entrepreneur, sungguh menarik.
Aku bertanya dalam hati, dapatkah membangun propaganda abstrak dalam pengeleminasian elemen negative dari diri seorang sarjana muda yang bisa dikatakan berbalik dengan kenyataan karena hal itu terkait dengan sebuah perjuangan yang riil dan karenanya bisa terkait dengan minoritas semangat juang masa muda. Mungkin ini berarti bahwa propaganda realistis dapat membangun strike a chord dengan afirmasi negative yang telah terprovokasi akibat pergeseran kepentingan untuk mampu berbicara banyak ditengah hedonisme epikuros.
Banyak cara untuk memabngun kepercayaan diri, atau itu menjadi masalah yang sesungguhnya. Aku mungkn salah satu dari sebagian orang yang mengalami degradasi kepercayaan diri, apakah mungkin dengan menjungkirbalikan kenyataan bahwa mimpi adalah bagian dari realita?!. Lavoisier mungkin saja berhasil menemukan antipode sesungguhnya dari flogiston yang fantastik itu dan membuang ke laut seluruh teori flogistika. menyingkirkan hasil-hasil eksperimental yg mendalam tentang sebuah mimpi untuk menjadi pegawai BUMN atau Pegawai Negri Sipil, Bahkan sebaliknya daripada eksperimen Lavosier itu. Aku mencoba untuk bertahan dengan kenyataan siapa aku!!
Karena sebuah imajinasi ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma "A" adalah sama dengan "A", tetapi dengan logika dialektis yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah. Akal sehat akan dapat dikarakterisasi oleh kenyataan bahwa materi secara sistematis mampu melampaui toleransi dialektis sehingga mampu melampaui perkembangan kekuatan-kekuatan produktifnya lewat struktur bulat birokrasi kepegawaian yang membentuk anatomi sebuah cerita bernama Kolusi dan Nepotisme yang kemudian berujung pada KORUPSI!
Kadang aku merasa kecil, tapi aku ingin menjadi besar. Sekranglah saatnya!! Ketika dialektika itu berdiri di atas kepalaku, Ia mesti dibalikkan agar berdiri secara benar, apabila ingin menemukan inti-rasional di dalam kulit mistikalku!! Tinggalkan segala hal yang menghambat laju imajinasiku, bergerak taktis dan berbicaralah pada dunia.
Dalam beberapa waktu belakangan ini, masalah "apa yang harus aku kerjakan" telah menghadapkan aku pada situasi yang sangat mengnyita perhatian segelintir reformis nurani seorang Sendy. Dan harus diakui bahwa aku memang belum memecahkan masalah megenai karakter dan metode-metode pendekatan secara intensif terhadapnya, sebuah masalah mendasar bagi seorang yang baru saja mengalami recovery total akibat adiksi berkepanjangan selama beberapa tahun terakhir yang aktivitasnya berupa praktek penodaan symbol kepercayaan. Hal ini masih menimbulkan perbedaan-perbedaan pendapat yang serius, yang menampakkan ketidaktetapan serta kebimbangan ideologis yang menyedihkan.
Aku harus menjungkirbalikan kenyataan bahwa aku bukan seorang propagandis, bila boleh beranologi aku taktis seperti Kaum Likwidator, yang diseret oleh gelombang desersi borjuis, untuk meninggalkan revolusi marginal hubungan sebab akibatku dengan beberapa orang kawan yang mendefisiasikan perasaan lalu meleburkan lewat beberapa tanya kepada diriku sendiri terhadapnya.
Ada beberapa kata-kata untuk menghindarkan kesalahpahaman yang mungkin timbul. Secara terus menerus ketika kamu menggunakan logika sakit hati setelah berbicara tentang persiapan yang sistematis dan terencana, namun sama sekali aku tidak bermaksud menjelaskan kongkritnya bagaikan otokrasi yang dapat ditumbangkan hanya oleh pengepungan reguler atau serangan yang terorganisir.
Karena Pandangan demikian akan menjadi menggelikan dan doktriner. Sebaliknya, adalah mungkin saja, dan secara historis lebih sering terjadi, bahwa otokrasi akan runtuh di bawah tekanan ledakan spontan atau komplikasi-komplikasi politik yang tak terduga sebelumnya, yang sebenarnya secara terus-menerus mengancam otokrasi itu dari segala sudut. Sama halnya seperti otokrasi yang tumbang hanya oleh pengepungan regular atau serangan yang terorganisir, walaupun pada saat ini pun aku belum mampu untuk menumbangkan kerasnya tembok besar hatimu, suatu saat keadaan mungkin berbalik arah. Mungkin aku harus menempuh jalan sendiri, dan haruslah secara tabah mengejarmu tanpa lelah dan makin seiring berkurangnya kepercayaan pada faktor yang tidak bisa diduga sebelumnya, seperti dirimu yang terjebak pada kesalahan-kesalahanku terdahulu, maka semakin berkurang juga kemungkinanku untuk terperangkap kelengahan yang disebabkan perubahan historis apapun. Sehingga pada akhirnya apa yang aku impikan dan kamu juga impikan akan segera terwujud.
aku belum mampu mengorganisir beberapa kelemahan terbesarku dalam menghadapi tekanan yang bertubi-tubi dalam proses pendewasaan ini, ada seseuatu hal yang harus dipersalahkan tentang senioritas bahkan intimidasi kecil terhadap kawan kecil. inilah bentuk ketidakadilan ketika berhadapannya teori flogistika dengan teori sembarangan yang dikembangkan, cukup mudah untuk mendelegasikan hal ini kepada tiap individu yang berkompetisi meraih puncak tertinggi inteligenitas. bahkan dengan tidak melibatkan dalam pengambilan keputusan.
Ini penilaian yang paling objektif, ternyata merekapun memeiliki beberapa kriteria tandingan, haaaa cukup lucu bagiku mengingat apa yang telah digambarkan ini merupakan bentuk penyelarasan hubungan antara siapa dan mengapa!?! atau dengan pasti aku menyebut semua ini adalah BODOH!
apakah cukup untuk memahami isi dibalik kepala hanya dengan menjungkirbalikan kenyataan saja?! aku rasa terlalu naif ini bukan propaganda abstrak! ini adalah pertarungan! siapa yang kuat dia yang menang! mohon maaf aku terpaksa menjilat untuk itu aku harus pergi! sampaikan salam untuk yang mulia kebebasan dalam hitungan detik aku akan berpaling!
Aku selalu bermimpi untuk dapat berarti, mengabdikan sebagian hidupku untuk sesuatu yang berharga. Aku menginjak sesuatu yang lembek sekali, kulihat itulah semangat juangku, semangat juang yang seharusnya aku bagi dengan kawan-kawan korban penyalahgunaan zat adiktif, yang telah terampas haknya, terintimidasi sistem, terdiskriminasi dan disingkirkan dari masyarakat kelas sosial.
Aku ingin sekali menjadi inspirasi bagi kawan-kawanku, aku membayangkan diriku memiliki disiplin ideologis dan administratif, mengetahui dan mempraktekkan sentralisme dan keseimbangan hukum sesuai bidangku dan mengetahui bagaimana mempraktekkan azas diskusi kolektif dan pengambilan keputusan serta tanggung jawabnya masing-masing.menjadi seorang individu yang keberanian lahiriah dan moralnya telah berkembang seiring dengan perkembangan ideologisnya, yang selalu berkeinginan untuk menghadapi setiap perdebatan dan bahkan menyerahkan seluruh hidupnya untuk kejayaan revolusi. berfikir berdikari, yang mampu membuat keputusan-keputusan yang diperlukan dan melakukap prakarsa kreatif yang tidak bertentangan dengan disiplin.
Aku menghargai tiap jengkal tetesan keringat dari mitra kolektifku, aku berada di tempat yang berbeda kali ini, menjungkirbalikan kenyataan dari pertanyaan yang sebelumnya telah dibangun lewat isu yang sangat sensitif seputar propaganda kemanusiaan.
Aku merasa tidak ada salahnya untuk bekerja dengan kaum profesional, dengan mendesak kaum muda untuk mengikuti salah satu karir teknik yang lebih penting dalam upaya memberikan i1mu pengetahuan, ini sebuah energi antusiasme ideologis yang menjamin keberlangsungan jaringan pecandu untuk dapat bertahan ditengah kritikan tajam kepastian hokum yang dipertanyakan kembali. keharusan untuk menciptakan suatu tim administratif yang mengetahui bagaimana mengambil manfaat dan menyesuaikan pengetahuan teknis khusus lainnya, serta membimbing perusahaan-perusahaan organisasi negara lainya, untuk membawa membawanya sejalan dengan irama pergerakan revolusi bawah tanah persamaan hak korban napza.
Aku mungkin belum mampu melakukannya, aku mungkin hanya berdiri melawan rasa takut ini, rasa takut untuk tidak mampu mengcover keseluruhan aspirasi kawan-kawan grasroot, atau masih takut untuk memulai dengan kapasitas terbatas yang mungkin saja bisa aku kembangkan seiring pengetahuan yang akan selalu aku kejar sampai akhir hayatku nanti. Inilah perjuangan yang baru saja aku mulai, aku malu sekaligus terinspirasi oleh kawan aktivis yang intens memperjuangkan HAK korban napza yang telah pergi mendahuluiku, mereka seolah menegurku yang hingga kini diam saja melihat penyiksaan yang dialami oleh silent victims. Kawan-kawan itu adalah merupakan inspirasi bagiku. Aku bangga dengan kalian yang telah mampu mengakhiri krisis silogisme negative, mendobrak batas moral dan budaya.
Tunggu Kawan, akan aku teruskan kibaran bendera yang baru setengah tiang itu, lalu disatu masa nanti kita akan melihatnya bersama dari surga, melihat pemandangan indah, tak ada lagi diskriminasi, perlakuan stigmatif yang berujung pada dehumanisasi, melihat dengan damai persamaan hak yang pernah kita perjuangkan. Tunggu aku kawan, berbaringlah dengan tenang
Mataku belum terpejam saat penjual bubur diseberang jalan itu telah membuka dagangannya, lelahku belum tersandarkan juga, kudengar sabda sebatang rokok yang mengepul diantara sesaknya helaan nafasku manasbihkan sebentuk harapan yang terkungkung beribu imajinasi. yang terakhir belum kulakukan hanya menipiskan sejengkal tanah yang baru saja dibasahi hujan pagi ini, tentang karya ilmiah yang tercipta melalui intimidasi fikiran, vandalisme fikiran dan hal-hal yang berkaitan dengan dimensi ketiga turunan waktu. mentari diufuk timur belum muncul, yang muncul pagi ini adalah keresahan, aku mungkin saja dapat segera mensubtitusikan keresahan ini menjadi sepenggal kisah kasih penyamun kecil yang berada diujung jurang tapi aku masih belum mau melakukan hal itu sampai aku benar-benar yakin untuk melakukan hal yang pada akhirnya pun akan pula menjadi penyesalan. ironis ketika harus kembali bertempur melawan ketidakpastian karena kebodohonanku yang terprovokasi untuk terus masuk kedalam duniamu, tidak secara elegan atau cara-cara semi ekslusif melainkan dengan cara yang sama sekali tidak berdasarkan teori usang kahlil gibran keparat itu tentang romantisme hubungan integral perasaan.huffhttss... sudahlah lupakan sejenak tentang sajak laki-laki berkumis itu kini kita hidup dizaman berbeda kawan, zaman yang telah dipenuhi oleh akar-akar globalisasi yang telah menjalar dari pedesaan sampai gedung-gedung di perkotaan, zaman yang telah dipenuhi oleh sekumpulan bajingan kecil yang ketergantungan akan teknologi sehingga sangat-sangat memungkinkan untuk memanipulasi cinta, zaman yang telah dipenuhi dengan kebohongan, kemerosotan moral dan zaman yang telah dipenuhi oleh kekecewaan pengikut gibran karena teori yang dulu sangat diagungkan saat ini telah dijungkirbalikan oleh perkembangan syaraf homo sapiens!
tak terhitung sudah berapa kali aku memulai perjalanan ini, dan tak terhitung juga sudah berapa kali aku harus resah, nampaknya dua kali, atau mungkin lebih, entahlah aku malas memikirkannya. Entah apa yang kufikirkan pagi ini, aku sendiri masih malas untuk memikirkannya, yang aku tahu adalah aku berhadapan dengan penemuan Charles Babbage untuk membunuh kebosanan dan sedikit menuangkan kekesalanku pagi ini. hanya diam, sebungkus rokok dan botol minuman ringan yang menemaniku berpetualang di alam maya. dan aku sama sekali tak membutuhkan masukan dari siapapun pagi ini karena dengan tegas aku akan menjawab TIDAK!. Sial!! entah kenapa tiba-tiba telefon genggam keluaran cina ku ini bergetar, ternyata sikeparat provider yang menghubungiku pagi-pagi dengan mengirimkan pesan pendek pemberitahuan bonus telefon 10 menit, dasar kurang kerjaan!! buyarlah sudah lamunank singkatku tadi, baru saja aku melayang ke alam bawah sadarku untuk menengok ke masa 3-5 tahun kebelakang, memang sangat mengesalkan jika kita hidup berandai-andai, andaikan saja aku dulu tidak mengenalmu, andai saja aku mau menuruti nasihat orangtuaku, andai saja..andai saja... dan berandai-andai lagi untuk mengakumulasikan andai-andai yang lain!!.
Aku telah culup puas memaki diriku sendiri kini tiba saat bagiku menintervensi diriku sendiri, luka lebam pada pelipis mata yang kudapat saat bermain futsal tadi malam mulai merongrongku, belum lagi keluhan lain, ah.. minggu yang indah untuk berargumentasi dengan iblis. sudah cukup nampaknya aku memanagerial sisi emosionalku, kini aku akan beranjak tidur. selamat pagi!!
Darussalam yang tak pernah berujung pada lintangnya... Tak sempat dilahirkan.. karena mati terkubur dibawah nisan tanpa nama...!
Merekalah takdir dari orbit luar peradaban... Bermandikan Mitraliyur karabin.. angkat senjata para militan..
Dielukan lewat semiotik puisi penuh gemetar... Lemparan granat lavosier meledak dan ikut terbakar..
Ketika air mata tak terhapus dari pandangan shaf ghaib.. Dari balik mikhrab..tak tercatat bilangan ajaib...
Membalikan sujud.. memburu nafas dalam maklumat.. Tentang Sebuah kota yang terkubur takbir hingga kiamat...
Aku ingin hancurkan pabrik nista yang memproduksi dusta.. Mengoyak tenda-tenda pengungsi mengarak gutan belantara...
Membangkang Resolusi picik Majelis dunia... Ketika Shabra dan Shatila hancur bersama bumi Palestina!!
Saat Darwinis Sosial menjadi panduan ideologi Jabotinsky.. Doktrin keras proto-fasis Benitto Mussolini...
Semangat likud radikal mengusir kaum muslim palestin.. Ledakan As-sakhrah.. Kubah suci umat muslimin...
Kiblat pertama tlah dihancurkan oleh reptilia dari bawah tanah...Ditengah kumandang adzan disepanjang jalur gaza..
Rintihan Manusia menunggu mati sebagai syuhada... Terpenggalah kepala diujung senjata penghuni neraka..
Dengan lantangnya Jabra Ibrahim Jabra kobarkan semangat membara... Berapi nampaknya dari balik mimbar Al-Aqsa - As-Syura...
Saat bocah-bocah palestina Menjawab laras baja.. dengan lemparan bebatuan senja...
Terbungkamlah ujung senjata dibawah telapak sajadah.. Terpenjara tanpa suara.. mengikis kepingan tak bermaya...
Saat darah segar tlah membanjiri tanah An-biya... Khilafah tak segan resapkan darah para syuhada...
Mempertahankan bumi yang dititipkan Tuhan kepada kaum reformis.. Diserahkan Saverinus uskup pemegang baitul maqdis..
Kepada amirul mukminin Raudiallahu Anhu..Mempertegas seruan lantang umat muslim untuk bahu membahu...
Mereka mengubah demografi Palestina lewat infasi zionis yahudi.. Kematian manusia palestina hanya statistik bagi Rabbi Mordhaci...
Tak lebih dari fasia berujung lukisan mati... membawa injuri diatas darsum ujung belati...
Lamat kaki bocah-bocah palestina lewati padang savana... Merengek-rengek diantara deru mortir travesia...
Hanya menitik ketika ayah mereka menjadi syuhada... Gempita meriam ruahkan kabut airmata..
Wajah tanpa dosa menukik tajam ke cakrawala... Langit memedar merah memuntahkan vortus amarah..
Kibaskan saja Tuhan... Sayap Djibril kearah Zionis barbar..
Biarkan mereka terombang-ambing bagai tornado dipadang mahsyar...
Cinta dan Kasih bukan berarti hukuman mati.. ketika Rachel Corry harus bertarung melawan buldozer besi..
Alinea baru mengafirmasi jelaga fortilla... mengangkang kayuh palsu intimidasi jernihnya logika...
Siapa yang paling tangguh bercicara tentang teologi kemanusiaan?! Perdebatan tlah singkirkan aqidah dari dokumen ayat suci tuhan..
Apakah terwujud implementasi keimanan yang utuh?!! Dari ramalan suku maya sampai penemuan bahtera nabi Nuh...!!
Konspirasi sempurna propaganda iblis dan israel.. Dari setiap pusaran derita yang terbawa sampai tepian sungai Tigris..
Memaksa membuka blokade militer tanpa syarat.. Bukan memaksa Muslim tuk gadaikan kemurnian nilai syariat...
Beribu dukungan kecaman berlalu tanpa komando.. Berupaya memaksa Zabaniyah membuka gerbang purgatorio..
Saat google telah kalahkan popularitas kitab suci... Dan manusia kini memilih berdzikir lewat tombol-tombol Blackberry
Setiap energi yang terkuras untuk misi kemanusiaan Mavi Marmara tlah bercerita tentang pembantaian...
Terima kasih kepada liga arab atas degradasi ketakwaan..
Telah biarkan genosida di palestina dan kalian hanya berpangku tangan..
Konsepsi anomi terorisme instrumentalis... Mencermati kehidupan rezim ortodox pancang politis...
Membangun kekuatan teritorial berbasis zionis..Vandalisme quo vadis bagi kaum primordialis...
Serangan seporadis bagai sympthon kronis magis..Project rekonstruksi sosial yang berakhir dengan tragis..
Kekuatan faksional memburu nafas dalam kelam... Dari identitas yang terancam hingga dislokasi sumberdaya alam...
(senzdee_a.k.a. Abdullah Ali)
4 Juni 2010
Dalam beberapa waktu belakangan ini, masalah "apa yang harus aku kerjakan" telah menghadapkan aku pada situasi yang sangat mengnyita perhatian segelintir reformis nurani seorang Sendy. Dan harus diakui bahwa aku memang belum memecahkan masalah megenai karakter dan metode-metode pendekatan secara intensif terhadapnya, sebuah masalah mendasar bagi seorang yang baru saja mengalami recovery total akibat adiksi berkepanjangan selama beberapa tahun terakhir yang aktivitasnya berupa praktek penodaan symbol kepercayaan. Hal ini masih menimbulkan perbedaan-perbedaan pendapat yang serius, yang menampakkan ketidaktetapan serta kebimbangan ideologis yang menyedihkan.
Aku harus menjungkirbalikan kenyataan bahwa aku bukan seorang propagandis, bila boleh beranologi aku taktis seperti Kaum Likwidator, yang diseret oleh gelombang desersi borjuis, untuk meninggalkan revolusi marginal hubungan sebab akibatku dengan beberapa orang kawan yang mendefisiasikan perasaan lalu meleburkan lewat beberapa tanya kepada diriku sendiri terhadapnya.
Ada beberapa kata-kata untuk menghindarkan kesalahpahaman yang mungkin timbul. Secara terus menerus ketika kamu menggunakan logika sakit hati setelah berbicara tentang persiapan yang sistematis dan terencana, namun sama sekali aku tidak bermaksud menjelaskan kongkritnya bagaikan otokrasi yang dapat ditumbangkan hanya oleh pengepungan reguler atau serangan yang terorganisir.
Karena Pandangan demikian akan menjadi menggelikan dan doktriner. Sebaliknya, adalah mungkin saja, dan secara historis lebih sering terjadi, bahwa otokrasi akan runtuh di bawah tekanan ledakan spontan atau komplikasi-komplikasi politik yang tak terduga sebelumnya, yang sebenarnya secara terus-menerus mengancam otokrasi itu dari segala sudut. Sama halnya seperti otokrasi yang tumbang hanya oleh pengepungan regular atau serangan yang terorganisir, walaupun pada saat ini pun aku belum mampu untuk menumbangkan kerasnya tembok besar hatimu, suatu saat keadaan mungkin berbalik arah. Mungkin aku harus menempuh jalan sendiri, dan haruslah secara tabah mengejarmu tanpa lelah dan makin seiring berkurangnya kepercayaan pada faktor yang tidak bisa diduga sebelumnya, seperti dirimu yang terjebak pada kesalahan-kesalahanku terdahulu, maka semakin berkurang juga kemungkinanku untuk terperangkap kelengahan yang disebabkan perubahan historis apapun. Sehingga pada akhirnya apa yang aku impikan dan kamu juga impikan akan segera terwujud.
aku belum mampu mengorganisir beberapa kelemahan terbesarku dalam menghadapi tekanan yang bertubi-tubi dalam proses pendewasaan ini, ada seseuatu hal yang harus dipersalahkan tentang senioritas bahkan intimidasi kecil terhadap kawan kecil. inilah bentuk ketidakadilan ketika berhadapannya teori flogistika dengan teori sembarangan yang dikembangkan, cukup mudah untuk mendelegasikan hal ini kepada tiap individu yang berkompetisi meraih puncak tertinggi inteligenitas. bahkan dengan tidak melibatkan dalam pengambilan keputusan.
Ini penilaian yang paling objektif, ternyata merekapun memeiliki beberapa kriteria tandingan, haaaa cukup lucu bagiku mengingat apa yang telah digambarkan ini merupakan bentuk penyelarasan hubungan antara siapa dan mengapa!?! atau dengan pasti aku menyebut semua ini adalah BODOH!
apakah cukup untuk memahami isi dibalik kepala hanya dengan menjungkirbalikan kenyataan saja?! aku rasa terlalu naif ini bukan propaganda abstrak! ini adalah pertarungan! siapa yang kuat dia yang menang! mohon maaf aku terpaksa menjilat untuk itu aku harus pergi! sampaikan salam untuk yang mulia kebebasan dalam hitungan detik aku akan berpaling!
Aku bukanlah seorang propagandis yang akan berurusan dengan persoalan kehidupanku.. aku masih mesti menjelaskan egoisitas lepas dari krisis keprcayaan diriku.. sebab dari tak terhindarkannya krisis dalam silogisme modernitas cinta si cantik... kebutuhan untuk mentransformasikan perasaanku ini menjadi sebentuk cinta yang manusiawi... Jujur saja memang aku telah menyajikan banyak gagasan!! betul-betul sangat banyak.. sehingga gagasan itu akan dipahami sebagai suatu keseluruhan yang integral secara komparatif oleh para bidadari-bidadari sialan itu!. Meskipun demikian.. seorang agitator yang berbicara mengenai persoalan yang sama.. akan mengambil sebuah ilustrasi kematian nurani jiwa yang terdesak deadline kuno sang pujangga cinta untuk menegaskan sebuah hasrat tentang aku dan sebuah harapan…
Tapi semua ini bukanlah agitasi atau manipulasi perasaanku!! Ini adalah tentang satu orang bernama Shandy Rahadianyah Siregar yang memunculkan serangkaian gagasan tentang bagaimana untuk menang melawan pergolakan batin yang terjadi!! Tetapi hal itu juga bukan propaganda abstrak karena hal itu terkait dengan sebuah perjuangan yang riil dan karenanya bisa terkait dengan minoritas sisa cinta yang tersisa sebagai bagian dari sepenggal cerita cinta tutup buku!. Mungkin ini berarti bahwa propaganda realistis dapat membangun strike a chord dengan kamu yang mungkin telah terprovokasi untuk tidak memberikanku kesempatan untuk terus masuk kedalam kehidupan kamu yang sekarang!.
Aku berusaha menjungkirbalikan keadaan... saat kamu tertawa ketika mengadu dalam tersenggalnya nafasmu itu.. dan aku pun mengerang menahan sakit yang teramat sangat! Propaganda yang berjalan seiring manifestasi perasaan yang tidak karuan membuatku enggan mendeskripsikan betapa diriku akan sangat berat meninggalkanmu dari fikiranku... aku telah meneliti tentang siapa aku dan pantaskah aku berada “disana” denganmu?! Atau ini hanya eksperimenmu yang telah gagal untuk dapat memanipulasi perasaanku?!! Lavoisier mungkin saja berhasil menemukan antipode sesungguhnya dari flogiston yang fantastik itu dan membuang ke laut seluruh teori flogistika. Tetapi aku?!! sama sekali tidak menyingkirkan hasil-hasil eksperimental yg mendalam tentang kamu! Bahkan sebaliknya daripada itu. Aku mencoba untuk bertahan... dan mungkin hanya formulasinya yang dibalikkan. Aku memang tak akan mungkin bisa menyusun skema yang tersusun rapi tentang sistem kimiawi! Aku sadar kenapa aku ada disini tanpa mendapatkan perhatianmu..
“Dialektika itu berdiri di atas kepalaku... Ia mesti dibalikkan agar berdiri secara benar, apabila kamu ingin menemukan inti-rasional di dalam kulit mistikalku!! Sementara aku mencoba membuang jauh angan-anganku”
Hari ini adalah hari pertama aku bertemu dengannya setelah sekian lama. Aku masih belum mampu memanipulasi perasaanku sendiri lewat teknik persuasi yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicaraanku dengan dirinya melalui sentimen positif yang dipersuasi untuk saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, kepercayaan dan pengharapan tentang masa depan kisah yang pernah 10 tahun lalu. Mungkin aku menganggap ini sebagai konsubstansialitas, bagaimanapun kisah ini telah didasari laju stagnasi emosi yang terbentuk diantara keegoisan untuk saling mempertahankan argumentasi. Atau dengan mempertegas pernyataan “Aku udah Punya Pacar Lho..” huffhhzzzhhtt, I don’t care baby!
Mungkin kamu telah mengetahui bahwa mustahil membuat dua benda yang sepenuhnya sama. Dalam perluasan keterasingan menjadi cinta diperkenankan adanya sebuah deviasi atas cinta itu sendiri, yang bagaimanapun, tidak boleh melampaui batasan-batasan pasti mengenai perasaanku sendiri. Saat toleransi menjadi berlebih, kuantitas berlanjut menjadi kualitas, dengan kata lain, cinta tadi menjadi inferior atau sepenuhnya tak berharga. Pemikiranku hanyalah satu bagian dari keseluruhan tindak reaksional perasaanku yang lelah untuk mengidentifikasi sisi fanatisme masa lalu. Akal sehat dikarakterisasi oleh kenyataan bahwa cinta secara sistematis mampu melampaui toleransi dialektis sehingga mampu melampaui perkembangan kekuatan-kekuatan produktifnya lewat struktur kepemilikan cinta yang membentuk anatomi sebuah cerita.
Memang sudah seharusnya Aku memperketat perkiraan-perkiraan, koreksi-koreksi, kongkritisasi pemikiran dialektis untuk memberikan sebuah kekayaan mengenai isi dan fleksibilitas perasaanku melalui konsep-konsep yang akan terimplemtasikan lewat pendekatan intensif kembali, bahkan aku katakan bahwa ini adalah sebuah kelembapan yang bagi sebuah bidang tertentu membawanya lebih dekat pada fenomena yang nyata, sehingga aku akan sangat berterima kasih kepada impuls kuat yang diberikan cupid kepada pemikiran.
Semoga saja, aku dan kamu bersatu dalam harapan, atau kamu bersatu dengan imajinasi dan aku bersatu dengan semiotika puisi lagi.
Suara itu masih lemah…
Aku tak mendengarnya…
Suara itu masih payah.....
Aku pun belum mendengarnya...
Adalah konyol untuk mengajukan dalih situasi-situasi yang berbeda dan periode yang berubah-rubah, membangun rasa percaya diri, menyelami peran dan memimpin agitasi atas pertemuan singkat kemarin malam dan menjadi masalah pokok di bawah sembarangan situasi "membosankan dan penuh kedamaian" keluhku. Dalam segala periode, tak peduli bagaimana pun ini ditandai oleh suatu penurunan energi positif yang mengalir dalam tiap laju darah lebih lanjut, adalah tepatnya di dalam periode-periode yang seperti ini dan di bawah situasi-situasi seperti ini batinku akan mengalami pergolakan, mungkin aku membutuhkan perubahan radikal dalam soal taktik untuk mengintervensi diriku sendiri. Aku melihat cermin dan mencoba untuk merenungkan aktivitet intelektuil diriku sendiri, mula-mula aku melihat gambaran dari cara bicara, pengesampingan individual problem, atau break session .
Aku mencoba bertarung melawan realitas bahwa inilah yang disebut dengan penagalokasian perasaan, bahwa afirmasi positif ini akan dapat bekerja secara maksimal hanya dalam kontak lingkaran perdebatan batinku saja. Secara umum, tentulah, seluruh rencana yang diproyeksikan oleh otak yang kemudian aku kirimkan langsung menuju hati dapat segera di implementasikan hanya dengan bantuan respon dari kamu yang paling aktif. Aku akan berkali-kali berusaha menyatukan perasaanku dan perasaanmu, sangat yakin, akan berhasil mencapai persatuan tersebut. Bila tidak sekarang, kemungkinannya esok, bila tidak dalam satu cara, maka akan mengambil cara lain.
Apa kamu masih mau mendengarkan...?
Apa kamu masih mau tahu.....?
Apa kamu masih ingin...?
Aku tetap disini.... atau pergi.....!!??
"Setidaknya aku telah mencoba, walau kembali harus terjatuh, tapi setidaknya aku telah mencoba"
Seperti halnya pengetahuan manusia dalam merefleksikan alam yang merupakan materi yang berkembang, yang keberadaannya tidak tergantung dari manusia, begitu pula pegnetahuanku mengenal dirinya hanya sebatas kemampuanku mengenal tokoh fiktif dalam mimpiku. Filosofi materialisme yang telah ada menunjukkan jalan bagi diriku untuk bebas dari perbudakan spiritual yang membelenggu dalam berbagai kontekstual, dimana aku hanya menjadi penonton ketika perasaanku bertanding melawan objektivitas sebuah hubungan. Jujur saja aku ingin mengejarmu, namun akupun jemu menghadapi tekanan yang datang dari dalam diriku sendiri.
Perasaan ini telah terbawa arus, ini merupakan suatu kekacauan yang yang merajalela dalam fikiranku yang bertentangan dengan suatu teori ilmiah yang amat integral dan harmonis, yang memperlihatkan bagaimana, dalam konsekwensinya dengan pertumbuhan kekuatan-kekuatan produktif, suatu sistem kehidupanku yang stagnan, aku mungkin akan jauh dalam beberapa hari kedepan, melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan, menepikan janji, dan merobohkan fondasi yang baru saja aku dirikan.
Tapi… setidaknya aku telah mencoba….
Malam ini telah aku diujung peluh, darah segar menetes dari hidungku, aku masih menulis..
Sebatang rokok telah habis… cerita ini belum usai… akan aku lanjutkan keesokan hari...
Aku melihat cermin dan mencoba untuk merenungkan aktivitet intelektuil diriku sendiri, mula-mula aku melihat gambaran dari suatu kekacauan yang tak ada akhirnya dari hubungan-hubungan dan reaksi-reaksi, pergantian-pergantian dan kombinasi-kombinasi, di mana tak ada yang tetap, semua bergerak di mana dan sebagaimana telah adanya, tetapi segala-sesuatu bergerak, berubah, menjadi dan melenyap. Oleh karena itu, aku melihat mula-mula gambaran keseluruhannya dengan bagian-bagian individuilnya banyak-sedikitnya masih tinggal di latar belakang. Aku lebih memperhatikan gerakan-gerakan, peralihan-peralihan, hubungan-hubungan daripada benda-bendanya yang bergerak, berkombinasi dan berhubungan. Konsepsi dunia yang primitif, naïf, tetapi pada dasarnya tepat ini adalah konsepsi filsafat Yunani kuno, dan pertama kali dirumuskan dengan jelas oleh Heraclitus tentang segala-sesuatu itu ada dan tiada, karena segala-sesuatu itu mengalir, senantiasa berubah, senantiasa menjadi dan melenyap.
Pernah seorang kawan memanggilku gila karena pemikiran-pemikiranku yang menurut mereka diluar batas imanjinasi anak muda seusiaku. Namun bagi seorang “gila” seperti aku, hal-ihwal dan pencerminan-pencerminan tentang sesuatu yang mereka anggap asing di dalam pikiranku, adalah merupakan sebuah ide-ide yang terpisah-pisah, yang harus dipandang satu demi satu dan terasing satu sama lain dan merupakan obyek-obyek penyelidikan yang tetap, kaku, yang ditentukan sekali untuk selama-lamanya. Aku mencoba berfikir dalam antitese-antitese yang sama sekali tak terdamaikan. “Jalan pikiranku ialah ‘ya, ya; tidak, tidak’; karena apapun juga yang lebih daripada ini datang dari setan”. Bagiku suatu hal-ihwal itu ada atau tidak ada, suatu hal-ihwal tidak bisa pada waktu yang sama adalah dia sendiri dan sesuatu yang lain. Positif dan negatif secara mutlak saling mengecualikan sebab dan akibat berada dalam antitese yang kaku satu sama lain.
Sepintas lalu cara berpikir ini nampaknya sangat radikal, namun bagiku itulah yang dinamakan akal sehat. Hanyalah akal sehat, di dalam empat tembok dari kerajaan kamar-duduknya sendiri, yang mengalami avontur-avontur yang sangat indah segera aku memberanikan diri memasuki dunia penelitian yang luas. Dan cara berpikir yang metafisik, yang dapat dibenarkan dan perlu seperti halnya dalam sejumlah bidang yang keluasannya berlain-lainan menurut sifat obyek penelitian yang khusus, cepat atau lambat mencapai suatu batas, memang di luar batas ini aku menjadi berat-sebelah, terbatas, abstrak, tenggelam dalam kontradiksi-kontradiksi yang tak terpecahkan.
Untuk maksud sehari-hari kita tahu dan dapat mengatakan, misalnya, apakah seekor hewan itu hidup atau tidak. Tetapi, setelah diperiksa lebih teliti, kita ketahui bahwa hal ini, dalam banyak hal, adalah suatu masalah yang sangat rumit, sebagaimana diketahui betul oleh para ahli hukum. Mereka telah memeras otak mereka dengan sia-sia untuk menemukan suatu batas rasionil yang di luar batas ini membunuh anak dalam kandungan ibunya merupakan suatu pembunuhan. Persis sama tidak mungkinnya untuk menentukan secara mutlak saat kematian, karena fisiologi membuktikan bahwa kematian bukanlah suatu gejala yang seketika itu juga, yang sekejap mata, melainkan suatu proses yang lama sekali.
Inilah aku, seoarang manusia yang hidup ketika manusia-manusia sekitarku mengalami dekadensi moral aku berusaha menjadi diriku ketika manusia manusia itu telah merasa sempurn, aku masih harus mencari tahu siapa aku, walau aku tau siapa aku!. Begitu juga ketika setiap keadaan organik pada setiap saat adalah yang itu juga dan bukan yang itu juga; setiap saat aku mengasimilasi materi yang disediakan dari luar, dan membebaskan diri dari materi lain, setiap saat beberapa sel dari badannya mati dan sel-sel lain membentuk diri lagi, dalam waktu yang lama atau pendek materi dari badannya diperbaharui sama sekali dan diganti oleh molekul-molekul materi lain, sehingga setiap keadaan organik adalah senantiasa dia sendiri dan juga sesuatu yang lain daripada aku sendiri.
Inilah Aku, seorang manusia yang dilahirkan dengan nama :
SHANDY RAHADIANSYAH SIREGAR
Kapasitas perasaanku untuk beradaptasi... termanifestasi dalam sirnanya krisis-krisis umum yang disebabkan oleh pertemuanku dengannya setelah sekian lama aku tidak bertemu lagi dengannya.. namun dalam intensitas tertentu... bahkan aku tak dapat menyentuhnya untuk mempresentasikan paradigma perasaanku lewat semiotik bahasa puitik dihadapannya langsung.. tidak menggunakan alur komunikasi lewat pengembangan dari penemuan Graham Bell yang selama ini kita berdua pergunakan... Mungkin secara umum.. sarana yang dapat digunakan untuk mengenal setiap wujud di jagad ini..hanyalah melalui efek-efek dan tanda-tandanya. Dengan kata lain, bahwa aku dapat mengenal setiap wujud imajinasi tentang dirinya... hanya melalui efek-efek dan tanda-tanda yang ditimbulkan oleh setiap wujud tersebut... termasuk wujud-wujud yang dapat dikenal melalui mata dan indera lainnya.. Karena tidak satu pun wujud yang dapat masuk ke dalam fikiranku, dan mustahil otakku akan dapat menjadi wadah seluruh wujud... dan mungkin Sedikit sekali refleksi yang diperlukan untuk memahami bahwa disinipun aku akan menghadapi sebuah kesimpulan yang keliru. Dimana letak arti penting dari semua fenomena yang telah aku definiskan sebagai pertemuanku dengan “si lemot” begitu melekatnya dalam kehidupanku hingga meninggalkan banyak sekali kenangan yang tersisa..
Akan tetapi... kalau disajikan dalam bentuk yang sesungguhnya… maka faktor-faktor yang dia anggap sebagai sikap dan perilaku yang aku lakukan berlebihan dan berkebalikan dalam ukuran yang sama... mungkin sedikit pendeskriditan perilaku berlebihanku.. tentang transformasi dari esensi perasaanku yang telah tersosialisasikan menjadi produksi cinta dan bayangan pernikahan yang baru saja kita bicarakan! Itulah sebabnya mengapa faktor-faktor itu hanya bisa menjadi benih atau syarat bagi suatu tatanan dalam makna teoritis, bukan dalam makna historis. Faktor-faktor tersebut adalah fenomena dari sudut pandang konsepsiku tentang kisah antara aku dan kamu ini.. cinta kita pahami sebagai berkaitan dengan cinta.., namun pada kenyataannya bukan hanya tidak mengarah pada sebuah cerita pemberian hati atau jiwa... melainkan sebaliknya kita menganggapnya berlebihan!!!
Mungkin saja ini adalah akhir dari perjalananku mengarungi samudera kehidupan.. telah tiba saat dimana aku harus melemparkan sauh untuk berlabuh di kehidupan baru setelah kematian.. dimana kekekalan abadi akan dapat kunikmati dengan tanpa harus menghukum diri sendiri yang merasa bersalah akibat kesalahan kecil yang telah membuat ujung jariku berdarah!! Selamat tinggal kembali.. beberapa wanita mungkin akan pergi dan berpaling dariku... beberapa yang lainnya akan datang memaki... dan beberapa yang lainnya akan datang di hari pemakamanku untuk mengencingi pusaraku dengan benci...
Inilah salju abadiku... aku takkan lagi mencoba mendekatimu.... namun jauh didalam nuraniku.. aku masih cinta kamu mothz..walau aku akan terus membencimu selama-lamanya!
Aku menyimpan harapan tentangmu satu persatu dalam menghadapi kenyataan bahwa kamu adalah kenanganku… perlahan kudaki bukit berbatu, mengelilingi tepi berduri bertelanjang kaki.. perih kurasa namun tak seperih yang kamu rasa…
Aku telah hidup dimasaku lagi, masa dimana aku merasa terisolasi dari perjalananku meuju keyakinanku tentang siapa aku dan untuk apa aku disini.. aku menantimu atau aku berimajinasi tentang kamu?! Memperdebatkan ini sebagai bagian dari hubungan transdental! Orang gila yang mempermainkan karet gelang ditepian jalan, tanpa pernah malu akan jalan hidupnya.. mungkin aku bisa seperti dia untuk menyelami kehidupan.. aku rasa lebih mulia dibandingkan aku harus tetap bertahan dengan keserakahan dan ketidakpuasaanku dalam menikmati yang kini aku punya..
Ujung bukit ini masih belum terlihat, struktur jalannya curam sekali, jhampir-hampir aku kembali terjatuh kelubang yang sama dalam hitungan detik saja.. kerongkonganku pun belum terpuaskan dahaga akan kenikmatan airmatamu, sehingga penat sekali aku merasa.. lalu aku menjilati tepi bebatuan yang dibasahi oleh air liur kecemasanku untuk tidak mengharapkan airmatamu kembali.. jika aku salah aku memohon maaf untuk kesekian kalinya!
Inilah yang aku sebut dengan perjalananku menuju puncak terakhir dari bukit ini... bukit yang berbatu ingin aku sulap menjadi padang rumput yang indah... mungkin aku takkan beranologi... tapi inilah persembahan terakhirku untukmu.. apabila kau tak juga menurunkan hujan untuk membasahi bukit ini, rumput hijau ini akan kering dengan sendirinya.. dan si pendaki pun akan mati kehausan tanpa pernah mendapatkan apa yang ia perjuangkan…
Transformasi seorang adam..
Terwujud dalam manifestasi disolusi dalam tubuh kurus kecil tak bersahaja ini...
Menatap mencari faktualitas semu ketika berada dihadapan kotak magic yang Menyenandungkan untaian nada sendu dalam kesendirian...
Dinamika hidup yang dipenuhi struktur bulat perwujudan emosional kala kamu mencoba membunuh waktu...
Hidupku bersama harapan dan mimpi...
Tapi aku tak mau menjadi pemimpi..
Seorang pemimpi adalah manusia egois..
Tak peduli apa kata orang tentang imposibilitas..
Akan perwujudan ekspetasi-ekspetasi kapalan...
Aku Menjadikan kesendirianku sebagai distorsi tapal batas egoisitas...
Retorika impulsif yang hadir kala ku coba nyalakan lenteraku..
Padamkan sejenak jingga dalam batas temaram...
Gerak langkah yg menderap seketika bungkam...
Terjebak alunan syahdu gembala siang tanpa ucap..
Ketika Katup Matrixku telah terbuka..
Pencerahan, enlightmen, itulah titik revolusi pemikiranku..
Saat itu juga, afirmasi bekerja secara ajaib..
Mengubah realitasku yang telah tertelan zaman...
Diamku adalah argumentasi...
Sepi... dingin... jalananku masih sama..
Reruntuhan kaldera itu masih tepikan puingnya diantara harapan...
Jika boleh aku kumandangkan kata...
Kuucapkan selamat tinggal kepada yang mulia bertahta...
Serang, 16 November 2009 (08:45 Am)
Malamku dikota dengan deru mesin pesawat yg terbang rendah.. dipelataran parkir sebuah rumah makan fast food berlabel kartel kapitalisme buatan asing yg berdiri kokoh.. saat menjilati keangkuhan zamenhorf tua yg belum juga melangkah maju.. itulah aku.. kilatan lampu mobil mewah terus menyerangku sementara fikiranqu telah terprogram untuk terus meladeni kefrustasianku sendiri sementara aq masih sulit bermethamorphoself dalam eksistensiku untuk berdaya! tak sulit untuk menggerakan simpul keterasingan malam ini.. unsur terpentingnya adalah memutar balikan fakta seputar kejujuran! tp malam ini gelas itu kembali pecah dan imajinasiqu terkurung di sekitar keypad abcd.. dan membiarkanqu menunggu ditepian jalan.. sudah 4 batang rokok yg aq hisap namun Brown Sugar yg kutunggu belum juga muncul.. aah sudahlah.. lailatul qodr mungkin tidak datang malam ini tapi dalam tiap detak nafas asma 4wl akan terus kudendangkan..
Tangerang,18September 2009 (12:34am)
"Iskandar Zulkarnaen mengalahkan hampir semua Negara beradab di masa itu dengan tentara Yunani, yang cuma 40.000 orang ... Dalam perang dunia ke- I (tahun 1914-1918) Jerman mempergunakan lebih kurang 6.000.000 prajurit... Dalam perang dunia ke-II (1939-1945) Soviet Rusia mempergunakan lebih kurang 20.000.000 (20 juta) prajurit.. "
Bagaimana dengan diri seorang makhluk tuhan ini yang mengatasnamakan dirinya manusia dapat bermetamorphoself dengan keadaan yang sangat renta ketika dia harus berjibaku melawan immunodeficiency virus yang ada didalam tubuhnya..?!! yah.. terjadilah pergolakan batin sebagai manifestasi dari berbagai sebab frustasi.. rasa takut..ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan sehingga melahirkan sifat bawaan yang diametral yang menelurkan insting kematian yang oleh dirinya diilustrasikan sebagai binatang pemburu yang ganas namun tidak pernah dapat mengalahkan rasa takut yang ada didalam dirinya sendiri... dan kontradiksi pun telah terjadi... dapatkah anak muda ini mengalahkan rasa takutnya sendiri...?! bahkan tangga menuju inverno pun tak pernah terlihat dipelupuk matanya.. harus kah terjadi genosida terhadap rasa takut itu...?!!
hei... bahkan untuk bersosialisasi dengan seorang wanita saja dia masih ragu... betapa bodohnya dia! duduk berhadapan... tanpa tahu apa yang hendak dikatakan pada sang hawa..!!? apalagi melakukan mobile warfare!! menembus barikade kepercayaan diri saja ia tak mampu... ''aku memikirkan sesuatu yang belum dia fikirkan" jawabnya ragu.. "apa yang akan aku lakukan..jika aku saja tak tahu apa yang aku lakukan?! karena untuk saat ini pun aku belum melakukan apa yang seharusnya aku lakukan" silahkan berargumentasi dengan bestari dengan bijak tutur katanya.. sadar kalau semua ini hanyalah konsekwensi dari apa yang dulu pernah dilakukan maka dia memilih untuk duduk bersanding bersama mitraliyur karabin yang tercipta untuk segera meledakan isi kepala!!
Salahkah aku yang mencampuri urusanku sendiri?!
salahkah aku yang mencederai Diplomasi Serigala Licik itu dengan vain iydel?!
salahkah aku yang berdiplomasi dihadapan partisanku sendiri?!
sudahlah.... aku muak dengan janji...
aku mual dengan ilusi diri..
mengabdi dibawah ketiak egoisitas...
ini melelahkan...
sudahlah kawan...
biarkan aku menghisap rokok tanpa api..
biarkan saja aku menari tanpa instrumen..
biarkan aku bernyanyi tanpa suara...
biarkan aku menulis tanpa kertas... pena... dan akal fikiran...
biarkan saja semua mengalir begitu saja...
tanpa alur yang jelas... tanpa ide yang tangkas,..
walaupun aku tak pernah tahu apa yang aku tuliskan malam ini...
Tapi aku ingin mengingat "dia" sekali lagi...
mengaguminya.. walau aku sadar "BUKAN AKU"
tapi biarkan saja...
Perang baru saja dimulai... aku akan lebih hebat dari Iskandar Zulkarnaen!!
Aku terjebak dalam sakitku sendiri…
Ditengah keheningan malam yang menertawakan diriku…
Lelah memacu desir bergumam…
Inteligenitasku telah sampai dibatas peraduannya…
Namun tubuhku masih mengerang kesakitan…
Suasananya masih sama mencekam…
Sama seperti aku yang berbisik dalam kelam…
Gelap… tak ada cahaya.. didalam selimut aku tak berdaya..
Terang… banyak cahaya… didalam hampa aku gulita...
Aku tak mau mama tahu...
Tentang apa yang kurasakan kuharap ia takkan tahu...
Kutakut ia berpacu melawan ketakutan akan diriku..
Diriku yang selalu tak mau tahu tentang keterbatasanku...
Bawa aku melintasi guratan takdir...
Pergi menjauh dari sini....
Tapi Aku hanya ingin sendiri..
Karena aku ingin sendiri.....
Menikmati kesendirianku....
Dan aku ingin menikmati....!!
Serang, 9 Juni 2007
Terbunuh Sepi...Sepi... dan Aku kesepian....Aku menggeleng tanpa pernah ada orang yang bertanya, yang bahkan aku sendiri tak bermaksud untuk menggelengkan kepalaku mungkin ini reflek dari proses pengintograsian yang telah dilakukan sekumpulan oleh pangeran kecil dengan singkup kemasyurannya, dan lihat betapa lihainya aku bersilat lidah, dalam satu dua hitungan detik aku telah berhasil mengelabuinya untuk terus pergi meninggalkan mereka yang telah puas dengan jawaban-jawaban palsu yang telah aku berikan begitu saja, nampaknya mereka percaya, namun tidak untuk wanitaku! Andai saja kamu setolol orang-orang itu sayang, mungkin aku bisa saja mencuri perhatianmu barang sedetik saja, “kamu mencoba menipuku kalau begitu?!” si cantikku berang, aku hanya tertunduk lesu memegangi dadaku yang terasa sakit, rasa penasarannya mengalahkan iba nya kepadaku, si cantik tidak mempedulikan erangan halusku menahan rasa sakit ini, aku tidak berusaha mencoba menjawab pertanyaan si cantikku itu dan aku sangat yakin dia menunggu aku mengatakan sesuatu untuk memuaskan keingintahuannya tentang aku berbohong atau tidak, walaupun begitu mungkin saja dia telah tahu jawaban atas pertanyaannya itu tanpa aku menjawab. Sesaat kemudian dia pergi, aku masih terduduk diujung koridor ruang pengap saat dia pergi berlalu bersama laju emosinya dengan cepat dan menghilang! Apa aku peduli, nampaknya masih belum aku masih sibuk memegangi dadaku,aku mengalami Hypoventilasi!
Bayangan tentangnya masih lekat membayangiku saat ini, betapa tidak, sekelumit cerita tentang makhluk yang satu ini seakan enggan beranjak dari penuhnya bersama hiruk fikiranku yang terkontaminasi beban adiksi, kuputarkan saja senandung tembang patah hati karya musisi kelas rendahan Indonesia ini. Hingga pagi ini aku masih berkutat bersama bayangannya, dengan bodohnya kuambil box peralatan ‘bermainku’ , kukenakan torniket ditangan kiriku, setelah itu aku sibuk dengan terumo kecil, sendok stainless steel, korek gas, dan sedikit ‘snow white’ tecinta yang tersisa, kuambil nafas dalam-dalam lalu dengan sedikit dorongan kecil pada si terumo itu aku telah melayang menuju inverno.
Selamat tinggal cantikku
Pagi ini sendu.. aku baru saja selesai membaca opus magnum Gerpolek milik Tan Malaka seorang unforgotten hero dari Minangkabau. Suara sumbang semakin terdengar darilapangan rasa khayalku, botol-botol minuman itu masih berserakan dihadapanku, kupandangi satu-persatu, dan sesaat kemudian aku mulai mengalami kejenuhan yang teramat sangat, kumaki saja lewat setiap jengkal tulisan yang aku buat, perjanjian yang aku buat diatas secarik kertas putih yang lantas aku sebut saja nurani bertahta mengisyaratkan pergumulan sengit antara ketidakpercayaan dan keegoisan, entahlah aku tleah meilih untuk tidak memilih walaupun pagi ini sendu, kucoba saja untuk memanipulasi perasaanku kembali. Kembali kelapangan rasa khayalku, kujumpai setiap makhluk yang memandangku sinis seakan ingin menerkam dan mencabik-cabik tubuh lemahku, sayup-sayup kudengar suara anjing yang bernyanyi, lalu menyusul kemudian rengekan bocah kecil yang merengek meminta belas kasihan orang tuanya, tubuhnya kurus kering, tanpa kesakralan janji yang melekat ditubuhnya, matanya sayu, ditangan kanan dan kirinya masih tertinggal jejak suntikan yang membekas, fikirannya melambung jauh entah kemana, tatapan matanya kosong, wajahnya biru lebam, tubuhnya lemah tak berdaya tergeletak disamping keegoisannya, aku mencoba menghampirinya, bau busuk menyeruak dari sekitar tempat ia berimajinasi, kututup hidungku lalu mencoba memberanikan diri untuk melangkah, perlahan kuhampiri, dan sungguh!! Aku tercengang melihat sesosok pria lusuh yang sedari tadi aku lihat dari kejauhan.. itu aku! Aku melihat diriku sendiri!! Sekujur tubuhku lemas, tak pernah aku menyangka bahwa betapa nistanya diriku sendiri, aku merasa kasihan pada diriku sendiri, aku lemah tak berdaya dan tak seorangpun yang mau menolong diriku selain aku sendiri! Kudapatkan seutas tali untuk menjerat lehernya saja, lelakiku meronta-ronta, namun aku gelap mata terus mencoba membunuh sampah ini! Dia terus melawan dengan segenap tenaga yang tersisa, airmatanya berderai diiringi jeritan menyayat hati, orang tuanya tak ada saat itu, tak sampai hitungan menit, “aku” itu pun mati, dan aku yang ini hanya terpelanting jauh meninggalkan “aku” yang itu sendiri, aku menghantarkan “aku” menuju purgatorio untuk bergabung bersama iblis disana. Aku berusaha menstimulasi kembali otakku untuk bekerja, fikiranku sejernih air keruh, aku pergi membawa keranda mayat “aku” yang itu sendirian, melelahkan memang, aku terus berjalan melewati gang sempit dilingkungan kenistaan, kemudian sampailah aku disebuah jurang curam dibatas peraduan jingga tak berbatas, kulemparkan mayat “aku” kedasar jurang! Kulambaikan tanganku tuk mengiringi kepergian “aku” sambil terus kumaki “aku” yang menyeretku dalam kelam.
Cermin yang tak pernah pantulkan kepalsuan, aku tersadar bahwa semua ini adalah persfektif daria apa yang aku sebut keterasingan, bagaimana aku berinteraksi dengan diriku sendiri, ketika aku membawa lari kebebasanku sendiri lalu berteriak mencari kebebasan yang telah aku curi dari tanganku sendiri, dan menyalahkan diriku dari sebab akibat yang aku buat sendiri! Mungkin kalian berfikir inilah konsekwensi dari apa yang telah aku jalani sendiri, dan mungkin saja kalian benar.
Lewat tengah hari, iblis masih mengejekku, dia tertawa dan berdansa tepat didepan hidungku! Kubenamkan saja wajahku kedalam Lumpur kesendirian lalu aku mengadu pada iblis yang satunya lagi, yaa.. aku telah lama mengenal iblis itu, dia teman baikku namanya Terumo! Dia sangat baik kepadaku, menemaniku saat aku sedang terpuruk, walau ia tak hadir ketika sakuku sedang kosong, dan meninggalkanku ketika aku sedang sakit menahan rasa sakit disekujur tulang dan hatiku. Lewat seorang kawan aku berlari mencari iblis temanku itu, kutitipkan saja dua lembar uang Seratus Ribu padanya, lewat kawanku aku dapat bertemu dengan iblis kecil itu, satu jam menunggu kawanku belum datang, dua, tiga, empat, sampai delapan jam temanku tak juga datang, kucari dia dalam lelah, namun dia tak pernah datang juga! Damn!! Dia menipuku, sama seperti aku yang menipu Mama, Papa, dan Parcoy familyku, aku berjalan tertunduk lesu.. iblis yang daritadi menari dihadapanku sekarang sudah memainkan peranan lain sebagai seorang penari pendet, tarian yang kemarin baru diklaim oleh negara tetanggaku. Aku mengalami dekadensi! Entah bagaimana lagi caranya aku harus mengusir iblis ini dari hadapanku..
Mendung telah tersekat, belati menancap dijantungku, ingin kutinggalkan sejenak kebebalanku, jengah ini masing mengisi hariku catatan kelam diujung tulisan ini, apa aku masih bijaksana?! Tidak, lupakan saja, Djibril enggan mendekat untuk memberikan wahyu kepadaku. Hari ini kutuliskan sajakku diatas kain merah pemberian Oma, sebuah sajak sendu untuk jiwa-jiwa yang haru, sajak yang tak pernah berbentuk, sajak yang kupatrikan diplakat jiwaku.. Sajak indah berjudul "KEPARAT" yang tak pernah tertulis dan terbit ...

