Artikel Terbaru »

DUM SPIRO SPERO (Dimana ada kehidupan, disana ada harapan)

Pagi bisu memendam keresahan, aku bermain dengan Logat spekulatif yang lantang-suaranya, secara teratur muncul di atas panggung ketika kelincahan Gallicnya dalam memahami sesuatu tidak bisa menyelamatkanku dari vortus amarah yang seketika datang saat aku harus memuntahkan kekecewaanku kembali. Nada yang membusungkan dada, yang mengagung-agungkan diri sendiri, yang angkuh, dan terutama racauan yang tak henti-henti tentang "cinta" dan pertunjukan yang palsu tentang hal itu, yang selalu begitu tidak bermanfaat, terus-menerus berdengung di telinga orang-orang yang menanggapku gila bagai terserang syndrome tourette. Aku mulai menulis secara sistematis bagian-bagian tertentu diolah melalui kata-kata yang mentereng menjadi demam panas yang berlangsung sementara, berbeda dengan kehangatan yang asli yang membara dalam tulisanku yang sebelumnya. Hanya saja Sebagai tambahan, pertunjukan yang kikuk, memuakan mendampingi kelenjar keegoisan sehingga melahirkan keangkuhan pembawaannya pada fikiran-fikiran yang asli, merdeka telah dipatahkan dan yang sekarang, sebagai parvenu ilmu, mengganggap perlu menggembar-gemborkan apa yang dia bukan atau apa yang tidak dimilikinya. Kemudian mentalitas sampah kecil ini, yang dengan cara kebinatangan yang tidak sopan sedikitpun-dan tidak tajam maupun tidak mendalam serta tidak pula tepat-menyerang orang seperti Cabet, agar dihargai karena sikap praktisnya terhadap dirimu yang mungkin sangat memaknai tiap lembaran kehidupan yang telah dijalani, di pihak lain aku ingin sekali bersikap sopan terhadap orang seperti dirimu dan lagi seluruh arti Dunoyer yang aku maksudkan adalah terletak dalam keseriusan yang lucu yang sangat membosankan, aku berudaha mengkotbahkan ungkapan perasaan yang dikarekterisasi oleh Helvetius sebagai berikut: dari yang malang dituntut keharusan menjadi sempurna.
Ini terdengar bagus, tampak simetrikal. Tetapi apakah ini masuk akal? Ketika aku berusaha kembali masuk kealam bawah sadarmu sekali lagi, saat gerbang purgatorio telah membekukan harapan tadi, Nampak jelas dan berbeda sekali, beberapa kawan menganggap ini lucu, tapi tidak bagiku, karena inilah saat dimana aku harus dapat mengambil simpati yang sangat sulit. Kreasi artistik tentu saja bukanlah omelan meskipun ini juga merupakan pembelokan, sebuah perubahan dan transformasi realita, sesuai dengan apa yang saat ini terjadi. Sejauh apapun seni fantasi melangkah, dia tak bisa menolak material lain kecuali apa yang diberikan dunia tiga dimensi. Bahkan saat sorang artis menciptakan sorga dan neraka, dia hanya mentransformasikan pengalaman dari hidupnya dalam phantasmagoria. Mungkin saja aku masih dapat mengingat untuk menjadikan kisah madu dan pasir dalam satu drama teatrikal.

kemungkinan itu masih ada, harapan itu masih ada, selama masih ada kehidupan disini!

0 Comments:

Post a Comment



 
 
 

Ernesto 'Che' Guevara Quotes

Member

 
Copyright © THE LAST EPISODE Powered by: Blogger.com
Template By: Ikhsan Hafiyudin